Rabu, 27 Februari 2013

Efisiensi Angkutan Ternak Masih Dikaji



JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perhubungan masih mengkaji ulang angkutan khusus ternak dari sentra produksi ternak ke ibukota provinsi yang membutuhkan. Salah satu yang dikaji adalah faktor efisiensi antara mengangkut ternak dalam kondisi hidup atau sudah dalam wujud daging potong.
"(Angkutan ternak) ini kan masih dilihat, kami tugasnya menyalurkan. Kami akan lihat efisiensinya seperti apa," kata Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Bobby Mamahit, saat ditemui di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis (21/2/2013). Jangan sampai juga, ujar dia, angkutan ternak disatukan dengan penumpang. Bila sampai hal itu terjadi, imbuh Bobby, yang terjadi adalah penumpang stres, demikian pula ternak yang diangkut.
Bobby mengatakan sentra hewan ternak khususnya sapi banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Karenanya, Pemerintah berniat membuat angkutan khusus ternak dari kawasan itu.
Menurut Bobby Pemerintah sudah melakukan studi banding ke Australia untuk melihat pendistribusian hewan ternak melalui kapal laut dari peternakan modern mereka. Harapannya, Indonesia bisa mencontoh praktik tersebut. "Tapi kita belum bisa seperti mereka, soalnya mereka peternakannya sudah modern," aku Bobby.
Sebagai gambaran, Bobby menuturkan angkutan darat ternak sapi di Australia sudah menggunakan truk khusus. Sebaliknya di Indonesia, hampir seluruh peternakan masih dikelola secara tradsional, termasuk distribusinya. "Yang dikirim pun cuma 5-10 ekor sapi saja," tambahnya.
Saat ini Pemerintah masih terus mengkaji beragam konsep terkait distribusi daging sapi. Kementerian Negara BUMN, misalnya, mengusulkan dibangunnya rumah potong hewan (RPH) di kawasan sentra produksi ternak, sehingga hewan ternak tak perlu diangkut ke daerah tujuan dalam kondisi hidup. Pengangkutan ternak selama ini dilakukan dalam kondisi hidup, dengan risiko hewan tersebut stres dan berat badannya menyusut.
"Makanya kami sedang lihat. Mana yang paling efisien. Mengangkut sapi bakalan atau sudah potongan," ujar Bobby. Meski demikian keputusan soal angkutan ternak lintas pulau ini diyakini bisa diambil pada tahun ini.
Bobby mengatakan tidak diperlukan banyak persyaratan untuk mewujudkan angkutan ternak. Bila keputusan akhirnya tetap mengangkut hewan hidup, dia menyebutkan kapal perintis berukuran kecil bisa dipakai. Selain aman bagi ternak, penggunaan kapal perintis kecil juga akan memisahkan angkutan ternak dengan penumpang.

http://nasional.kompas.com/read/2013/02/22/06231560/Efisiensi.Angkutan.Ternak.Masih.Dikaji

Motto BPTU Sembawa:"Bibit Unggul Peternak Makmur"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SILAHKAN KOMENTAR