Selasa, 20 Desember 2011

Gebyar Pedet Hasil Inseminasi Buatan di Madura

Melalui Inseminasi Buatan (IB), pemerintah menargetkan pada 2014 Indonesia mampu menyediakan kebutuhan daging sapi untuk masyarakat kita paling tidak 90 persen dari ternak lokal.
Bertepatan dengan acara Gebyar Pedet Hasil Inseminasi Buatan di Madura, Kasubdit Ternak Potong Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia, Ir. Wignyo Sadwoko, MM, menyampaikan tujuan dilakukannya IB adalah untuk membantu mensukseskan program pemerintah, yaitu tercapainya swasembada daging tahun 2014.
Inseminasi buatan merupakan cara pembibitan dengan cara memasukkan sperma/semen sapi jantan yang telah dibekukan ke dalam alat kelamin hewan betina dengan menggunakan alat inseminasi.
"Program IB ini bertujuan dalam rangka mempercepat pertambahan populasi melalui jumlah kelahiran, sekaligus juga melakukan perbaikan kualitas produktivitas dari sapi-sapi lokal kita. Karena dengan melalui teknologi IB ini, kita akan mampu meningkatkan kualitas ternak-ternak kita yang saat ini lebih banyak terjadi penurunan kualitas karena terjadinya kawin sedarah," ungkap Wignyo.
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Ir. Suparwoko Adisoemarto, MM menuturkan bahwa untuk mewujudkan IB, gubernur Jawa Timur telah melakukan berbagai cara untuk mensosialisasikannya. Mulai dari mengadakan rapat-rapat di kalangan dinas, mengundang dewan pers, hingga mengadakan ternak kontes regional seperti Gebyar Pedet Hasil Inseminasi Buatan ini.
Hal ini ditegaskan oleh Kepala Unit Kerja Pelaksana Teknis Inseminasi Buatan Jawa Timur, Ir.  M. Tjahjono, bahwa Gebyar Pedet Hasil Inseminasi Buatan di Madura ini diikuti oleh 100 ekor sapi, baik IB murni sapi madura maupun persilangan. sumber http://www.sinartani.com

Motto BPTU Sembawa:"Bibit Unggul Peternak Makmur"

Jawa Timur Mampu Tangani Kebutuhan Sapi Nasional

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Ir. Suparwoko Adisoemarto, MM berharap kekurangan sapi pada provinsi lain di Indonesia jangan ditutupi dengan cara impor, namun tetap diambil dari dalam negeri sendiri, bila perlu dari Jawa Timur.
“Jawa Timur merupakan lumbung sapi,” kata Suparwoko. Harga sapi impor yang mahal dibandingkan dengan sapi lokal dan kualitas sapi lokal yang tidak kalah bersaing membuatnya optimis bahwa sapi lokal mampu bersaing dengan sapi impor. “Saya yakin 90 persen lebih, sapi lokal mampu bersaing,”  tukasnya.
Kasubdit Ternak Potong Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia, Ir. Wignyo Sadwoko MM, juga mengatakan Jawa Timur merupakan lumbung sapi nasional. “Jawa Timur merupakan salah satu penopang utama di dalam pengembangan program swasembada daging sapi, karena Jawa Timur adalah merupakan lumbung sapi-sapi kita. Dari hasil pelaksanaan sensus bulan Juni yang lalu, secara nasional kita sudah mempunyai sapi 14,8 juta. Dan 4,8 jutanya itu ada di Jawa Timur. Tentunya ini sumbangan yang sangat berarti untuk program swasembada daging kita. Dan Madura, dari 4,8 juta sapi di Jawa Timur itu, Madura menyumbang kurang lebih hampir 25 persen atau 800 ribu lebih populasi sapi di Pulau Madura,” paparnya.

Motto BPTU Sembawa:"Bibit Unggul Peternak Makmur"

Senin, 19 Desember 2011

Kunjungan DIRJEN Baru ke BPTU Sembawa


Baru-baru ini kementerian pertanian melakukan pergantian DIRJEN, salah atunya adalah Direktur jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang sebelumnya di jabat oleh Bapak Prabowo di gantikan oleh Bapak Syukur Irwantoro. walaupun baru saja dilakukan pergantian namun agenda kunjungan DIRJEN Peternakan dan Kesehatan Hewan ke BPTU Sembawa tetap terlaksana sesuai rencana. Sabtu, 17 Desember acara kunjungan tersebut berlangsung, diawali dengan Makan telur bersama dengan siswa SD Sekitar BPTU Sembawa, acara dilanjutkan dengan pertemuan bersama karyawan, pemerintah kecamatan dan kabupaten serta dinas peternakan untuk berdiskusi bagaimana memajukan dan mensukseskan program program pemerintah khususnya bidang peternakan. acara diakhiri dengan kunjungan ke peternakan ayam dan sapi sekaligus peresmian Pembangunan jalan, PAM dan Rehab kandang. (mjt)
Motto BPTU Sembawa:"Bibit Unggul Peternak Makmur"

Kamis, 08 Desember 2011

Bungkil Inti Sawit dalam Ransum Unggas

www.poultryindonesia.com. Ransum unggas (ayam petelur dan broiler) komersil di Indonesia saat ini menggunakan bungkil kacang kedelai (BKK) sebagai sumber utama protein, meskipun kita tidak menghasilkan bungkil kedelai.

Itulah sebabnya jumlah impor bungkil kedelai kita terus meningkat yang menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, pada tahun 2010 sudah mencapai 2,8 juta ton. Oleh karena itu, sangat menarik bila ada bahan pakan yang dapat menggantikan BKK, terutama bila bahan dan teknologi penggunaannya dapat diperoleh di dalam negeri. Sudah banyak penelitian yang dilaporkan di dalam negeri maupun di luar negeri yang bertujuan untuk mencari pengganti BKK sebagai sumber protein dalam ransum unggas. Salah satu di antaranya adalah mengganti BKK dengan bungkil inti sawit (BIS). Penelitian tentang ini juga sudah banyak dilaporkan, namun hanya 2 (dua) artikel yang menarik yang disajikan dalam tulisan ini.
Produksi dan kandungan gizi bungkil inti sawit
Bungkil inti sawit merupakan produk ikutan yang dihasilkan dari proses pemerasan inti biji sawit untuk menghasilkan minyak inti sawit. Sebagai negara produsen sawit terbesar di dunia, pasti kita menghasilkan bahan ini. Menurut data dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (Purba dan Panjaitan, 2011), pada tahun 2010 Indonesia menghasilkan bungkil inti sawit sebanyak 2,881 juta ton dan pada tahun 2011 diperkirakan meningkat menjadi 3,108 juta ton.  Suatu potensi yang cukup besar. Namun, bisakah digunakan di dalam ransum unggas, apalagi sebagai sumber protein menggantikan bungkil kedelai?
Setiap orang yang mau menggunakan suatu bahan pakan dalam ransum pasti lebih dulu mengetahui nilai nutrisi dari bahan tersebut. Jika nilai nutrisi BKK dan BIS diperbandingkan seperti dalam Tabel 1, maka akan terlihat bahwa nilai nutrisi bungkil inti sawit jauh di bawah bungkil kedelai dan tidak mungkin BIS untuk menggantikan BKK, jika teknik penggantian dilakukan secara barter (atau 1:1). Berdasarkan informasi dari beberapa pabrik pakan di Indonesia, penggunaan BIS dalam ransum hanya sekitar 2,5% hingga 5%, karena adanya faktor pembatas seperti tingginya kadar serat kasar, adanya cemaran cangkang yang dapat mempengaruhi produktivitas ternak, kecernaan gizi yang rendah dan harga yang relatif tinggi dibandingkan dengan BKK.
Akan tetapi, teknologi untuk mengurangi kadar cangkang, memperkaya kandungan gizi dan meningkatkan kecernaan gizi BIS sudah dihasilkan beberapa peneliti. Teknologi ini sudah dipaparkan dalam tulisan Sinurat (2010).  Salah satu contoh untuk meningkatkan kandungan gizi BIS adalah dengan teknologi sederhana membiakkan mikroorganisme dengan menggunakan media BIS atau dengan proses fermentasi. Contohnya, proses fermentasi yang dilakukan di Balai Penelitian Ternak dapat meningkatkan protein kasar BIS dari 14,2% menjadi 22,95%, meningkatkan kandungan asam amino dan nilai energi metabolis seperti terlihat pada Tabel 1 (Sinurat, 2010). Teknologi seperti ini diharapkan membuka peluang untuk menggantikan BKK dengan BIS.
Tabel 1. Perbandingan Kandungan Gizi Bungkil Kedelai dan Bungkil Inti Sawit.
Zat Gizi
Bungkil kedelai
Bungkil inti sawit (BIS)
BIS * difermentasi
Bahan kering, %
89
90
89,48
Serat kasar
6
21.7
18,6
Energi Metabolis (kkal/kg)
2510
2087
2413
Protein, %
44,0
14,2
22,95
Asam Amino, %



Methionin
0,59
0.41
0,51
Lisin
2,6
0.49
0,59
*Sinurat (2010)
Penggantian BKK Dengan BIS dalam ransum ayam petelur
Salah satu artikel menarik dilaporkan oleh Dairo dan Fasuyi di Journal of Central European Agriculture Vol 9 (2008) No 1 yang mencoba menggantikan BKK dengan BIS yang sudah difermentasi. Dalam hal ini, BIS difermentasi dengan menggunakan teknik silase (tanpa menambahkan mikroorganisme tertentu selama proses fermentasi). Teknik ini dilaporkan meningkatkan protein kasar BIS dari 20,0% menjadi 23,4% dan menurunkan serat kasar dari 15,5% menjadi 12,4%.
Dalam penelitian tersebut, BKK diganti dengan BIS tersebut secara bertingkat (0, 25, 50 dan 75%). Dari hasil yang disajikan dalam Tabel 2 terlihat bahwa semakin tinggi porsi penggantian BKK dengan BIS menyebabkan peningkatan konsumsi pakan dan penurunan sedikit produksi telur. Penggantian BKK dengan BIS sebanyak 75% sudah menyebabkan penurunan produksi telur dan efisiensi (FCR) yang lebih boros. Namun, jika dilihat pada penggantian 50% BKK dengan BIS, produksi telur maupun efisiensi penggunaan pakan (FCR) yang dicapai,  masih dapat ditolerir atau tidak berbeda nyata dengan kontrol (tanpa penggantian BKK dengan BIS). Peneliti tersebut menyimpulkan bahwa BKK dapat diganti hingga 50% dengan BIS yang sudah difermentasi untuk ransum ayam petelur.
Selengkapnya simak Majalah Poultry Indonesia Edisi Cetak Oktober 2011

Motto BPTU Sembawa:"Bibit Unggul Peternak Makmur"

Gebyar Pedet Hasil Inseminasi Buatan

PAMEKASAN – MADURA : Rangkaian ketiga acara panen pedet kali ini bertempat di Lapangan BAKORWIL 4, Pamekasan, Madura. Acara bertajuk “Gebyar Pedet Hasil Inseminasi Buatan” dilaksanakan pada tanggal 3 Desember 2011 dan diikuti oleh 100 ekor pedet hasil penyerentakan birahi yang dilakukan di tahun 2010. Dengan motto mendukung terwujudnya sapi beranak lima juta dalam lima tahun (SAPI BERLIAN) tahun 2011 diharapkan program ini turut mendukung program nasional Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDS/K) tahun 2014.

Kepala Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur, Ir. Suparwoko Adi Sumarto, MM., memaparkan bahwa sapi Madura merupakan plasma nutfah asli Indonesia dan memiliki sejumlah kelebihan diantaranya kualitas daging yang baik dan rendah kolesterol, tahan terhadap cuaca ekstrim dan memiliki toleransi tinggi terhadap kualitas pakan yang kurang baik. Suparwoko menjelaskan bahwa Madura merupakan salah satu lumbung sapi di Indonesia, data menurut hasil Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah dan Kerbau (PSPK 2011) yang telah dirilis akhir November 2011, menyebutkan bahwa Madura mempunyai populasi sapi sebesar 808.608 ekor yang tersebar di Kabupaten Sumenep (360.312), Sampang (196.414), Bangkalan (194.838) dan Pamekasan (127.044). 

Acara Panen Pedet merupakan bentuk apresiasi Pemerintah Pusat terhadap Pemerintah Daerah dan seluruh komponen pendukungnya termasuk petugas lapangan dan peternak dalam ikut memajukan peternakan sapi lokal. Mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kasubdit Ternak Potong Direktorat Budidaya, Ir. Wignyo Sadwoko, MM. menyebutkan bahwa pedet-pedet tersebut merupakan hasil penyerentakan birahi yang bertujuan memenuhi permintaan pasar terhadap keseragaman sapi baik dari segi umur maupun bobot. Gerakan penyerentakan birahi dan inseminasi buatan masal juga bertujuan untuk meningkatkan tingkat kelahiran dan kualitas anakan dengan mencegah terjadi inbreeding. Diharapkan kegiatan Panen Pedet dapat lebih memotivasi daerah untuk meningkatkan populasi ternak, khususnya sapi lokal untuk mendukung program nasional PSDS/K 2014. “Target Pemerintah di tahun 2012, impor sapi tidak akan lebih dari 10%”, ujarnya. 

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, terus berupaya dalam pencapaian program PSDS/K 2014 melalui berbagai program seperti optimalisasi inseminasi buatan dan kawin alam, pengembangan RPH dan pengendalian pemotongan betina produktif, perbaikan mutu dan penyediaan bibit, penanganan gangguan reproduksi dan kesehatan hewan serta pengembangan SDM dan Kelembagaan. Pengembangan sumberdaya lokal diharapkan dapat menekan angka impor sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan peternak Indonesia. 

Motto BPTU Sembawa:"Bibit Unggul Peternak Makmur"

Berita Acara Serah Terima Jabatan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan


Dirjen Peternakan dan Keswan yang Baru Bapak Syukur Iwantoro yang sebelumnya menjabat Staff Ahli Menteri bidang Investasi menggantikan bapak Prabowo Respatiyo Caturosso yang saat ini menduduki jabatan barunya sebagai staff ahli menteri bidang Investasi. Serah terima jabatan dilakukan pada tanggal 5 Desember 2011 pukul 09.30 WIB di auditorium gedung D Kementerian Pertanian Jakarta. Acara di awali dengan pembacaan Fakta Integritas, kemudian dilanjutkan dengan pengambilan sumpah serah terima jabatan, penanda tanganan Fakta Integritas dan Serah terima Jabatan yang disaksikan oleh Bapak Menteri Pertanian RI. Dalam kegiatan dihadiri oleh para jajaran eselon 1 Kementerian Pertanian dan eselon 2 dan 3 Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan

Point-point sambutan Menteri Pertanian dalam kegiatan serah terima jabatan
-Perkuat sistem Kesehatan Hewan nasional kaitan dengan penyebaran – penyebaran penyakit, seperti :
 1. Rabies di Bali
2. Antrax di Jateng
3. Flu Burung
-Pengembangan protein hewani lainnya yang berasal dari kambing, domba dan unggas
-Segera lakukan konsolidasi Internal di Direktorat Jenderal Peternakan
-Akan dilakukan evaluasi menyeluruh oleh Bapak Menteri dan Wakil Menteri terhadap kinerja eselon 1 di lingkup kementerian Pertanian

Point-Point Wawancara Bapak Menteri pertanian dengan Media
-Pengembangan program-program di subsektor Peternakan tidak cukup hanya mengandalkan APBN saja, tetapi perlu peningkatan Investasi sebagai suatu hal yang penting bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan di bidang Peternakan
-Harus ada review protap yang ada terkait hasil rilis PSPK 2011
-Dengan pergantian Dirjen yang baru harus ada trobosan trobosan baru, dengan latar belakang Bapak Syukur Iwantoro sebelumnya di Staff Ahli Menteri bidang Investasi, saat ini beliau menjadi Dirjenak keswan dan sebagai pengambil kebijakan di subsektor peternakan permasalahan-permasalahan terkait Investasi yang terkendala regulasi selama ini dapat terselesaikan. Seperti problema di daerah terkait perizinan maupun lahan untuk peternakan

Point-point wawancara Bapak Dirjenak Keswan Baru Bapak Syukur Iwantoro
-Mendorong percepatan sub sektor peternakan agar lebih menggairahkan bagi para investor
-Harus banyak regulasi yang lebih kondusif untuk menggairahkan para investor
-Peningkatan populasi luar jawa, perlu adanya kerjasama dengan kementerian terkait seperti Perhubungan, Pekerjaan Umum dan kementerian terkait lainnya sesuai dengan koridor MP3EI
-Peningkatan anggaran untuk menumbuhkan wilayah-wilayah peternakan yang baru salah satunya wilayah Indonesia Timur

Motto BPTU Sembawa:"Bibit Unggul Peternak Makmur"

Sabtu, 26 November 2011

Training Audit Internal ISO 9001:2008 BPTU Sembawa

BPTU Sembawa terus berbenah diri untuk menuju Sertifikasi ISO 9001:2008, salah satu yang dilakukan adalah melakukan training kepada beberapa pegawai untuk menjadi petugas Audit Internal ISO 9001:2008 di BPTU Sembawa. Training tersebut dikuti oleh 20 orang pegawai yang berasal dari tatausaha, Seksi PTPd, Seksi PTPB, Seksi Jasa Produksi, dan dari perwakilan Jabatan Fungsional Medik/Paramedik Veteriner, Fungsional pengawas mutu bibit dan pengawas mutu pakan. Trainer pelatihan tersebut berasal dari TUV internasional Indonesia yang memberikan pelatihan selama dua hari. adalah Mr. Mukhsin Safiq sebagai trainer berharap kerjasama antara BPTU Sembawa dengan TUV bisa membawa peningkatan manajemen hingga tercapainya sertifikasi dan tentunya peningkatan produktifitas dan layanan kepada konsumen. ir. Ermizal sebagai Manajemen Representatif yang mengkoordinir aplikasi ISO 9001;2008 di BPTU Sembawa juga berharap agar melalui pelatihan ini dapat meningkatkan kemampuan audit para calon auditor internal tersebut. dalam acara tersebut menarik bagi peserta ketika peserta secara bergantian dalam kelompok mencoba melakukan audit, setidaknya merasakan bagaimana di audit dan bagaimana rasanya melakukan audit. (MJT)

Motto BPTU Sembawa:"Bibit Unggul Peternak Makmur"

Pembukaan Padang Penggembalaan(Lelang Ulang)

Informasi Lelang Kode Lelang 2903212 Nama Lelang Pembukaan Padang Penggembalaan (Lelang Ulang) Alasan Pembatalan tidak...