Tampilkan postingan dengan label BERITA PETERNAKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA PETERNAKAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2013

Lampung Tetap Sentra Ternak



BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi Lampung tetap berupaya untuk mempertahankan status sebagai sentra ternak, terlepas akan dibangun atau tidaknya pelabuhan atau terminal khusus angkutan sapi.
"Jika pemerintah pusat akan menyiapkan itu, silakan saja. Tetapi, pemprov akan tetap berupaya membangun kemandirian. Predikat Lampung sebagai lumbung ternak harus tetap dipertahankan," ujar Asisten Daerah Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Lampung Arinal Djunaedi, Kamis (7/2/2013).
Ia mengatakan itu menanggapi pernyataan Menteri Perhubungan EE Mangindaan yang akan membuat angkutan dan terminal atau pelabuhan khusus ternak sapi di Lampung dan Sumba. Infrastruktur itu akan dibangun terkait impor sapi bakalan dari Australia.
Lampung dan Sumba dipilih karena kedua daerah ini tercatat sebagai daerah pengangkut terbanyak sapi di Indonesia.
Arinal menambahkan, pihaknya belum mengetahui teknis pembangunan sarana transportasi dan terminal tersebut. Namun, jika betul diwujudkan, pihaknya sangat menyambut baik hal itu.
http://nasional.kompas.com/read/2013/02/07/20202889/Lampung.Tetap.Sentra.Ternak

Motto BPTU Sembawa:"Bibit Unggul Peternak Makmur"

Efisiensi Angkutan Ternak Masih Dikaji



JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perhubungan masih mengkaji ulang angkutan khusus ternak dari sentra produksi ternak ke ibukota provinsi yang membutuhkan. Salah satu yang dikaji adalah faktor efisiensi antara mengangkut ternak dalam kondisi hidup atau sudah dalam wujud daging potong.
"(Angkutan ternak) ini kan masih dilihat, kami tugasnya menyalurkan. Kami akan lihat efisiensinya seperti apa," kata Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Bobby Mamahit, saat ditemui di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis (21/2/2013). Jangan sampai juga, ujar dia, angkutan ternak disatukan dengan penumpang. Bila sampai hal itu terjadi, imbuh Bobby, yang terjadi adalah penumpang stres, demikian pula ternak yang diangkut.
Bobby mengatakan sentra hewan ternak khususnya sapi banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Karenanya, Pemerintah berniat membuat angkutan khusus ternak dari kawasan itu.
Menurut Bobby Pemerintah sudah melakukan studi banding ke Australia untuk melihat pendistribusian hewan ternak melalui kapal laut dari peternakan modern mereka. Harapannya, Indonesia bisa mencontoh praktik tersebut. "Tapi kita belum bisa seperti mereka, soalnya mereka peternakannya sudah modern," aku Bobby.
Sebagai gambaran, Bobby menuturkan angkutan darat ternak sapi di Australia sudah menggunakan truk khusus. Sebaliknya di Indonesia, hampir seluruh peternakan masih dikelola secara tradsional, termasuk distribusinya. "Yang dikirim pun cuma 5-10 ekor sapi saja," tambahnya.
Saat ini Pemerintah masih terus mengkaji beragam konsep terkait distribusi daging sapi. Kementerian Negara BUMN, misalnya, mengusulkan dibangunnya rumah potong hewan (RPH) di kawasan sentra produksi ternak, sehingga hewan ternak tak perlu diangkut ke daerah tujuan dalam kondisi hidup. Pengangkutan ternak selama ini dilakukan dalam kondisi hidup, dengan risiko hewan tersebut stres dan berat badannya menyusut.
"Makanya kami sedang lihat. Mana yang paling efisien. Mengangkut sapi bakalan atau sudah potongan," ujar Bobby. Meski demikian keputusan soal angkutan ternak lintas pulau ini diyakini bisa diambil pada tahun ini.
Bobby mengatakan tidak diperlukan banyak persyaratan untuk mewujudkan angkutan ternak. Bila keputusan akhirnya tetap mengangkut hewan hidup, dia menyebutkan kapal perintis berukuran kecil bisa dipakai. Selain aman bagi ternak, penggunaan kapal perintis kecil juga akan memisahkan angkutan ternak dengan penumpang.

http://nasional.kompas.com/read/2013/02/22/06231560/Efisiensi.Angkutan.Ternak.Masih.Dikaji

Motto BPTU Sembawa:"Bibit Unggul Peternak Makmur"

Mentan: Pejabat Baru Harus Bekerja Untuk Kemandirian Pangan dan Kesejahteraan Petani


(gambar dari detik.com)
 
Jakarta – “Sehubungan dengan etos kerja Kementerian Pertanian saat ini, saya meminta seluruhjajaran Kementerian Pertanian khususnya para pejabat baru melaksanakan Makna BekerjaKementan yakni mengabdi untuk kemandirian pangan dan kesejahteraan petani serta menjunjung tinggi nilai–nilai dasar  Kementerian Pertanian,” demikian dikatakan Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono, MMA saat melantik 23 pejabat struktural Eselon II Kementerian Pertanian di Jakarta (Selasa, 12/2/2013).
 
Mentan mengatakan, pelantikan kali ini memiliki catatan tersendiri, karena dilakukan 1,5 tahun menjelang berakhirnya masa kerja Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II pada tahun 2014. “Masa orientasi tugas Saudara sangat singkat. Di sisi lain kita dihadapkan pada tantangan ke depan yang semakin berat untuk mencapai target tersebut, yang memerlukan peningkatan kinerja yang lebih tinggi,” katanya.
 
Untuk itu diperlukan sikap profesionalisme para pejabat baru sebagai bentuk janji pada tugas dan kewajiban yang diemban. ”Baru saja Saudara menandatangani Pakta Integritas yang merupakan janji yang kuat pada diri sendiri untuk bersikap profesional, disiplin, berlaku jujur, dan akuntable dalam melaksanakan fungsi tanggung jawab dan wewenang. Oleh karena itu saya berharap agar saudara memenuhi janji tersebut,” jelas Mentan.
 
Pada kesempatan tersebut, dijelaskan juga bahwa pelantikan pejabat struktural merupakan suatu peristiwa biasa dalam organisasi. Sebab sebagaimana diketahui, masa bhakti Pegawai Negeri Sipil (PNS) telah ditetapkan dalam peraturan perundang –undangan yang mengatur batas usia pensiun (BUP) yakni 56 tahun, dan bagi pejabat struktural eselon II dapat diperpanjang setelah melalui proses di Badan Pertimbangan Jabatan dan kepangkatan (Baperjakat) dengan tetap mempertimbangakan kinerja dan kompetensi yang dimiliki.
 
”Harus kita pahami bersama, jabatan bukan merupakan hak, akan tetapi merupakan amanah dari Allah SWT. Sehingga harus selalu siap untuk dievaluasi dan siap untuk purnabhakti apabila telah memasuki batas pensiun,” kata Mentan.
 
Dilanjutkan Mentan, penggantian pejabat struktural juga mencerminkan adanyadinamika organisasi untuk menghadapi tantangan lingkungan strategis yang terus berubah dan tuntutan masyarakat yang terus meningkat. ”Kita tidak bisa hanya menjalani tugas jabatan dengan cara kerja biasa tetapiharus berprestasi mengingat tantangan ke depan kita akan menghadapi tahun – tahunyang cukup berat. Musuh utama ekonomi nasional kita adalah kekurangan pangan dan inflasi.Kita harus mengambil peran dan tanggung jawab terhadap ketahanan pangan kita,” katanya.
 


 sumber : http://www.deptan.go.id/news/detail.php?id=1086&awal=0&page=&kunci=

Motto BPTU Sembawa:"Bibit Unggul Peternak Makmur"

Jumat, 13 Juli 2012

Jelang Ramadan, Ayam Pramuka Laris Manis

SRIPOKU.COM, TEBINGTINGGI -Banyaknya persedekahan yang digelar masyarakat di Kabupaten Empatlawang, baik pesta pernikahan atau ruwahan sebelum memasuki bulan Ramadan berdampak positif bagi para pedagang ayam. Ayam potong, seperti ayam pramuka dan ayam putih laris manis di pasaran.Menurut sejumlah pedagang di Pasar Tebingtinggi, Kamis (12/7/2012), pembeli ayam potong ini mulai banyak sejak sebulan terakhir. Pemicunya, banyak warga yang melaksanakan persedekahan atau ruwahan menyambut bulan Ramadan."Alhamdulillah, lumayanlah dapat keuntungan dari berdagang ayam karena pembeli semakin meningkatakhir-akhir ini," ujar Parti, seorang pedagang ayam.Dikatakan, meningkatknya jumlah pembeli ayam ini biasanya sebelummenghadapi puasa, serta usai lebaran. Pada masa-masa itu, banyak yang melaksanakan persedekahan."Kebutuhan akan daging memasuki bulan puasa memang banyak. Ya, setiap tahunnya memang seperti ini kondisi perdagangan di pasaran terutama pedagang ayam ataupun daging," jelasnya.Penulis : Wiliem Wira KusumaEditor : Soegeng Haryadi

Published with Blogger-droid v2.0.4

Kamis, 07 Juni 2012

Swasembada Daging, Mampukah?

INILAH.com, Bandung - Impor masih menjadi kebiasaan bangsa Indonesia. Sejak republik ini berdiri, nyaris tidak ada komoditas yang beredar di masyarakat yang tidak diimpor. Produk apa yang tidakdiimpor Indonesia saat ini, nyaris tidak ada jawabannya. Bahkan Indonesia yang mengklaim sebagai negara agraris, tetap saja mengimpor sebagian besar komoditasnya, termasuk beras.Demikian pula di sektor peternakan. Hingga saat ini, untuk memenuhi kebutuhan daging sapi bagi rakyat, pemerintah masih mengandalkan impor, seperti dari Australia, Selandia Baru, bahkan Amerika Serikat dan India. Volumeimpor daging sapi bahkan bisa lebih dari 100 ribu ton per tahun, baik dalam bentuk sapi atau bakalan maupun daging.Nah, saat sejumlah negara menghentikan ekspor daging sapinya ke Tanah Air, seperti pernah dilakukan Australia dan Amerika Serikat, pemerintah kita langsungkelabakan. Karena memang perbandinganpopulasi dan produksi daging sapi masih belum seimbang dengan kebutuhan rakyat Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa.Dengan tingkat konsumsi mencapai 1,9 kgper kapita/tahun, Indonesia setidaknya membutuhkan 480 ribu ton daging sapi pada tahun ini. Sedangkan populasi sapi potong secara nasional hanya mencapai 14,8 juta ekor, yang jika dikonversi menjadi daging konsumsi hanya memenuhi sekitar 60-70% dari kebutuhan. Artinya, sisanya harus dipenuhi dengan cara mengimpor.Lalu, sampai kapan bangsa ini menjadi pengimpor daging sapi? Hal ini memang sudah masuk dalam rencana pemerintah. Sejak 2000 lalu, pemerintah sudah mencanangkan untuk swasembada daging. Bahkan program tersebut pernah dua kali dicanangkan, yakni pada 2005 dan 2010. Hasilnya? gagal total. Indonesia tetap mengimpor daging sapi hingga saat ini.Swasembada daging pun kembali didengungkan pemerintah dan targetnya pada 2014 nanti, Indonesia hanya mengimpor daging sapi kurang dari 10% kebutuhan nasional. Mengapa tidak semuanya dipenuhi produk lokal?Karena memang di alam perdagangan bebas dunia ini, tidak mungkin sebuah negara menghentikan impor sama sekali.Melalui Program Swasembada Daging Sapidan Kerbau (PSDSK) 2014, secara bertahap pemerintah mengurangi impor. Jika pada 2011, impor mencapai 34,9%, tahun ini ditargetkan hanya 17,5% atau 84.740 ton. Selanjutnya pada 2013 hanya 13,8% dan pada 2014 diharapkan tinggal 9,7%.Mampukah kali ini pemerintah merealisasikan targetnya untuk swasembada daging? Tentu ini bukan tugas ringan. Perlu persiapan infrastrukturyang memadai untuk mewujudkan tekad ini. Mulai dari peningkatan populasi sapi dalam negeri, jalur distribusi, regulasi dalam bidang perdagangan, hingga menjaga stabilitas harga.Namun belum lagi program ini maju setengah jalan, tantangan sudah mengadang. Pada semester I tahun ini, misalnya, pemerintah malah akan meningkatkan volume impor sapi, denganalasan untuk memenuhi kebutuhan rakyatmenjelang Ramadan dan Idul Fitri. Tahun ini, bisa menjadi pertaruhan karena nyatanya hingga saat ini impor sapi kita masih tinggi, tak jauh beda dengan semester I tahun lalu.Keberhasilan swasembada daging ini tentunya tak akan terlepas dari upaya peningkatan populasi sapi di masyarakat, salah satunya melalui peternakan rakyat. Tentunya pengembangan peternakan sapi ini harus dilakukan secara intensif dan terprogram. Dengan kondisi alam dan geografis Indonesia, pengembangan peternakan sapi potong secara besar-besaran, bukanlah hal yang mustahil.Yang dibutuhkan saat ini adalah kesungguhan dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat peternakuntuk mewujudkan swasembada daging ini. Dan yang terpenting, peningkatan populasi sapi ini harus lebih menguntungkan para peternak. Tidak seperti saat ini, dimana harga bibit dan pakan melambung tinggi, sementara harga jual tidak menjanjikan keuntungan yang jelas. Jika peternakan memang bisa benar-benar menguntungkan rakyat terutama para pelaku usaha, swasembada daging pada 2014 pun bakal lebih mudah dicapai. [den]

Published with Blogger-droid v2.0.4

Pembukaan Padang Penggembalaan(Lelang Ulang)

Informasi Lelang Kode Lelang 2903212 Nama Lelang Pembukaan Padang Penggembalaan (Lelang Ulang) Alasan Pembatalan tidak...