Tampilkan postingan dengan label swasembada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label swasembada. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 September 2011

Rencana Strategis dan Kebijakan Pembangunan Peternakan Nasional Menuju Swasembada Daging









1.       Konsepsi swasembada daging (sapi dan  kerbau.)
a).     Konsep swasembada daging sapi adalah terpenuhinya konsumsi daging sapi masyarakat yang berasal dari sumber daya lokal sebesar 90%, sehingga 10% disisakan untuk impor baik sapi bakalan maupun daging. Tetapi konsep ini bukan kebijakan penerapan “kuota” tetapi dengan maksud untuk peningkatan produksi dalam negeri sehingga mencapai 90%. Peningkatan produksi dalam negeri ini akan diiringi pula oleh kebijakan lain yang bersifat  teknis maupun ekonomi yang mencakup langkah operasional peningkatan populasi dan produksi dan penjajakan kenaikkan tarif bea masuk  dan langkah-langkah penerapan SPS (Sanitary Phyto Sanitary).
b).     Swasembada daging sapi yang diinginkan akan bersifat berkelanjutan, artinya pencapaian swasembada akan didahului oleh swasembada yang on trend,  yang selanjutnya akan menuju kearah swasembada sepenuhnya sehingga ketahanan pangan bertumpu pada sumberdaya lokal. Sesudah tahapan-tahapan ini tercapai maka swasembada diarahkan kepada kemandirian dan kedaulatan pangan asal daging sapi. Pada tahap kedaulatan tercapai maka pada titik ini  kedaulatan peternak ini akan menjadi subjek yang menentukan perencanaan penyediaan pangan.
c).     Konsep swasembada juga dimaksudkan untuk pemberdayaan peternak dan ternak lokal, sehingga kegiatan-kegiatan teknis menyangkut peningkatan populasi dan produksi ternak yang dikhususkan pada ternak asli dan lokal Indonesia. Pada saat ini kondisinya ternak rakyat yang dipelihara oleh lebih dari 6 juta rumah tangga dinilai masih under performance. Misalnya calving interval sapi lokal rakyat yang masih panjang yaitu rata-rata 21 bulan diharapkan menjadi 16 s/d 18 bulan. Demikian juga berat karkas yang relative rendah yaitu hanya 150 kg menjadi 176 kg serta angka kelahiran dari 24% menjadi 30%.
d).     Salah satu prinsip Program Swasembada Daging Sapi adalah dapat dihasilkannya daging yang memenuhi persyaratan teknis yaitu aman, sehat, utuh, dan halal. Aman berarti daging tersebut terbebas dari berbagai cemaran dan residu, sehat berarti bebas dari potensi serangan penyakit, utuh berarti tidak ada percampuran dengan daging lainnya dan halal memenuhi persyaratan kaidah-kaidah agama Islam karena mayoritas masyarakat menganut agama Islam.
2.       Operasionalisasi program swasembada daging sapi kerbau
a).     Sebagai langkah-langkah teknis dan strategis, maka program swasembada daging sapi dan kerbau melakukan langkah-langkah untuk peningkatan populasi dan produktivitas. Langkah ini ditempuh dengan peningkatan kelahiran melalui kegiatan reproduksi yaitu penyelamatan sapi betina produktif, pemeriksaan dan penanganan gangguan reproduksi, intensifikasi kawin alam, optimalisasi IB, dan menurunkan kematian pedet. 
b).     Langkah teknis kedua yaitu peningkatan efisiensi dan produktivitas ternak, yang pada aspek ini akan ditangani masalah kesehatan hewan, pakan dan perbibitan. Penanganan aspek kesehatan dilakukan melalui penggulangan penyakit yang berdampak ekonomi tinggi dan peningkatan pelayanan kesehatan hewan. Dari aspek pakan ditangani penyediaan dan pengembangan pakan melalui revitalisasi padang gembalaan dan pengembangan kebun bibit. Selain itu dikembangkan pula integrasi ternak sapi dan sawit dan pengawetan hijauan pakan diwilayah intensifikasi kawin alam. Sedangkan pada aspek perbibitan dilakukan penguatan kelembagaan unit pembibitan pemerintah dengan rencana aksi pemuliabiakan sapi potong dan penguatan village breeding centre.
c).     Peningkatan kualitas peternak dan kelembagaan yang mencakup langkah-langkah peningkatan ketrampilan peternak sapi potong melalui fasilitasi sekolah lapang agribisnis sapi potong dan terbentuknya kelembagaan peternak melalui peran SMD dan para penyuluh.
3.       Lesson learnt dari program sebelumnya
a).     Apa yang menjadi pelajaran penting yang dapat dipetik dari program swasembada daging sapi sebelumnya? Sebenarnya program swasembada daging sapi telah lama menjadi keinginan kita bersama. Sejak Tahun 2000 telah dilancarkan program kecukupan daging sapi. Program ini berlangsung dari Tahun 2000- 2005, tetapi program tidak mencapai sasaran sesuai yang diinginkan karena pada kurun waktu tersebut program terlalu diwarnai oleh wacana, seminar serta lokakarya tanpa diikuti dengan langkah-langkah konkret baik kebijakan maupun kegiatan teknis
b).     Pada Tahun 2005-2007 terjadilah kevakuman.program sementara angka importasi baik sapi bakalan maupun daging sapi meningkat terus. Akibatnya pemerintah pusat kembali melancarkan satu program yang disebut sebagai Program Percepatan Swasembada Daging Sapi Tahun 2008-2010. Program telah memiliki langkah-langkah konkret tetapi belum didukung oleh pendanaan yang memadai sehingga program mengalami kegagalan dan angka importasi sapi bakalan dan daging sapi semakin membengkak.Tingkat ketergantungan Indonesia terhadap impor mencapai 25% dan angka importasi rata-rata mencapai 600 ribu ekor sapi bakalan dan daging sapi rata-rata diatas 100 ribu ton per Tahun.
c).     Tahun 2010 Menteri Pertanian kemudian kembali membentuk program swasembada daging sapi yang tercapai diharapkan pada Tahun 2014. Program telah dilengkapi dengan blue print  dan road map serta berbagai langkah untuk menjalani road map tersebut dan telah didukung oleh dana yang cukup memadai. Tetapi importasi sapi bakalan dan daging sapi nilainya belum didasarkan kepada potensi ternak lokal yang dimiliki saat ini. Sehingga sejak Tahun 2006-2010 angka importasi masih membesar juga. Puncaknya yaitu pada Tahun 2009 angka importasi sapi bakalan malahan melebihi 720 ribu ekor dan daging sapi mencapai 120 ribu ton. Apabila disetarakan dengan ternak impor maka nilai keseluruhan sapi dan daging setara dengan hampir 1,5 juta ekor. Sedangkan pemotongan ternak diberbagai rumah potong hewan di Indonesia setahunnya berkisar 2,4 juta ekor ini berarti lebih dari 60% pemotongan ternak di Indonesia telah dikuasai oleh ternak dan daging impor.
d).     Sebagai akibat terjadilah sumbatan pemasaran sapi-sapi rakyat masuk ke pasar dan rumah potong hewan, yang berdampak pada penurunan harga sapi rakyat di tingkat on farmBottle neck ini di coba diatasi dengan program swasembada dging sapi yang dalam program-programnya selalu berlandaskan pada sumberdaya lokal untuk mengangkat marwah peternak rakyat. Dan akhirnya Program Swasembada Daging Sapi yang telah dibangun hanya menyisakan output penting yaitu semakin tingginya angka impor sapi bakalan dan daging. Ini ironis ditengah tuntutan terhadap swasembada daging sapi.   

4.       Sensus ternak potong Tahun 2011sebagai blessing indisguise
a).     Baru saja kita menyaksikan hasil sensus ternak sapi potong, sapi perah dan kerbau Tahun 2011 yang dilaksanakan BPS. Menurut BPS untuk sapi potong ternyata jumlahnya 14,8 Juta ekor. Jumlah ini sedikit mencengangkan dan mengagetkan banyak pihak termasuk para akademisi dan para pakar bahkan pemerintah sendiri karena jumlah tersebut ternyata jauh melampui estimasi yang dibuat oleh pemerintah. Tahun 2010 pemerintah mengestimasikan populasi sapi potong sebesar 12,6 Juta ekor sehingga untuk tercapainya swasembada daging sapi di Tahun 2014 populasi ternak sapi di harapkan mencapai  14,2 juta ekor. Dengan data hasil sensus sapi potong tersebut maka sebenarnya dapat berpotensi untuk mempercepat tercapainya swasembada daging sapi setahun atau dua tahun. Swasembada daging sapi sudah dapat dicapai antara Tahun 2012-2013.
b).     Hasil sensus sapi potong 2011 tersebut juga mematahkan teori-teori lama yang menyebutkan bahwa Indonesia sebagai negara net importer. Bahkan hasil sensus telah menjungkirbalikkan keadaan sehingga Indonesia sebenarnya berpotensi sebagai Negara net eksporter.
c).     Tetapi dibalik keberhasilan hasil sensus tersebut bersamaan pula dengan ancaman dihentikannya ekspor sapi dari Australia ke Indonesia yang disebabkan karena perlakuan yang kurang manusiawi di berbagai rumah potong hewan di Indonesia. Tetapi sikap Australia ini kemudian berubah karena lobi dari peternak sapi Australia dan para pengusaha sehingga impor saat ini sudah dapat dibuka kembali. Sikap ambivalensi pemerintah Australia ini menjadi pertanyaan karena sebenarnya Indonesia tidak memerlukan impor sapi lagi karena jumlah sapi lokal dalam negeri sangat mencukupi. Hanya yang menjadi masalah saat ini adalah distribusi dan transportasi ternak sapi yang terserak dimana-mana

5.       Hubungan ternak dan lingkungan hidup
a).     Peranan penting peternakan yang kian progresif dan kini terhempas pada isu global yang di hembuskan FAO pada Tahun 2006 yang pada buku laporannya Livestock Long Shadow. Dalam laporan tersebut pada dasarkannya dikaitkan bahwa peternakan adalah penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar terhadap fenomena terjadinya perubahan iklim global. Menyusul isu tersebut muncul kelompok dan gerakan yang mulai mempropagandakan pengurangan kegiatan pengembangan peternakan bahkan ada yang lebih ekstrem yaitu berhenti mengembangkan peternakan. Kondisi ini diperparah dengan menurunnya minat generasi peserta didik bidang ilmu peternakan.
b).     Terhadap isu tersebut saya ingin menjelaskan bahwa terkait dengan isu lingkungan disuatu wilayah peternakan diharapkan memperhatikan! the ecological finger print atau tapak ekologis teknis dan daya dukungnya untuk peternakan. Apabila kedua variabel tersebut tidak saling berkompetisi atau salah satu menjadi lebih dominan maka sebenarnya usaha peternakan menjadi aman dan tidak mengganggu lingkungan.
c).     Salah satu kriteria yang mungkin dapat dipakai adalah ukuran Satuan Ternak dan lingkungan. Pada kriteria ini menyebutkan bahwa pada suatu luasan lahan padang penggembalaan dengan produksi rumput tertentu hanya dapat menampung jumlah ternak tertentu pula. Sehingga indikator daya tampungnya dapat terlihat dari apakah ternak tersebut kurus, sedang dan gemuk. Apabila ternak kurus berarti di daerah tersebut mungkin terlalu banyak ternak dan harus dikeluarkan tetapi terjadi sumbatan. Disamping itu terjadilah proses pengurangan pada padang gembalaan sebagai akibat terjadinya “over-grazing”. Selain kriteria tersebut kotoran ternak yang selama ini mungkin dianggap sebagai pencemar dapat dimanfaatkan pula menjadi biogas dalam tabung-tabung konversi. Selain hasil listrik dan gas, cairan padat yang timbul dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Disini saya melihat bahwa peternakan telah melaksanakan eco farming dan hampir semua produk  peternakan dapat diolah kembali.
d).     Justru penggunaan pupuk anorganik memiliki kontribusi besar pencemaran dan menimbulkan gas rumah kaca.

(Penulis : PSDSK PUSAT DITJEN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN – KEMENTERIAN PERTANIAN)

Sabtu, 10 September 2011

Keanekaragaman Ayam Lokal

www.poultryindonesia.com. Keberadaan ayam lokal sepertinya belum dapat tergantikan oleh yang lain. Baik dalam hal konsumsi maupun sebagai unggas hias (karena suara dan bulunya yang indah), ayam lokal ini memiliki penggemarnya tersendiri.



Indonesia sebagai negara yang berkepulauan ternyata menyimpan kekayaan yang beraneka ragam. Salah satu kekayaan tersebut ialah keanekaragaman plasma nutfah ayam lokal yang tersebar di setiap wilayah di Indonesia.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dari Balai Penelitian Ternak, Ciawi, menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 15 jenis plasma nutfah ayam lokal yang keberadaannya benar-benar asli Indonesia.

Ke 15 jenis ayam tersebut di antaranya ialah ayam Cemani, ayam Kapas, ayam Pelung, ayam Arab Golden, ayam Merawang, ayam Arab Silver, ayam Kedu, ayam Kedu Putih, ayam Kate, ayam Gaok, ayam Sentul, ayam Wareng, ayam Tolaki, ayam Kalosi, ayam Nunukan. Namun, diluar itu masih banyak jenis ayam lokal yang dimiliki oleh negeri tercinta ini. Akankah keanekaragaman ayam lokal tersebut akan punah begitu saja atau bahkan diakui sebagai milik negara lain? Dalam penulisan laporan utama kali ini, kami ingin menghadirkan keberagaman dan keanekaragaman dari ayam lokal. Sedikit menghadirkan informasi yang mungkin bermanfaat menambah pengetahuan kita akan banyaknya jenis ayam lokal yang dimiliki oleh negara Indonesia.

Keberadaan ayam lokal selama ini sekedar untuk konsumsi para hobiis yang sangat menyukai akan keindahan bulu atau bahkan keindahan suara yang dimiliki oleh ayam lokal tersebut. Seperti halnya ayam Ketawa yang berasal dari Kalimantan Timur dan ayam Pelung yang berasal dari Jawa Barat ini dibudidayakan karena keindahan suara. Namun, saat ini terlah banyak pula yang mengembangkan budidayanya untuk konsumsi daging dan telur dari ayam lokal tersebut.

Ayam lokal mempunyai nilai gizi yang baik. Selain itu juga mempunyai rasa yang lebih khas dan nikmat dibanding dengan jenis ayam pedaging maupun petelur. Serat yang liat dan kenyal menjadi ciri utamaya. Bahkan setiap lebaran ayam kampung identik dengan berbagai macam masakan.

Ayam lokal mempunyai keistimewaan dibanding yang lain, di antaranya : Ayam lokal lebih tahan terhadap penyakit dan mudah menyesuaikan dengan cuaca di Indonesia. Selain itu pakan yang diperoleh pun mudah, bahkan bisa dipelihara ala kadarnya. Tujuan utama orang memelihara ayam kampung adalah untuk diambil telur, daging, dan untuk dikembangbiakkan.

Mengingat preferensi konsumen ayam lokal yang sangat spesifik dan potensi genetik yang tidak mampu menyamai produktivitas ayam ras, maka tujuan pengembangan unggas lokal bukan untuk mengganti 100% produksi yang berasal dari ayam ras. Sehingga ayam lokal tidak bisa menggantikan ayam ras namun saling melengkapi untuk mencukupi kebutuhan protein hewani. Dengan kata lain, penyediaan dan permintaan dapat diseimbangkan dalam rangka menjaga kestabilan harga yang akhirnya dapat memberikan keuntungan yang memadai bagi masyarakat yang bergerak di bidang agribisnis ayam lokal.

Unggas lokal akan lebih berperan dalam pembangunan peternakan di masa depan, khususnya dalam pemenuhan protein hewani. Kecenderungan peningkatan kontribusi daging unggas dari 20% (1970) menjadi 65% (2008) dan di antaranya 16,3% dari unggas lokal. Hal ini disebabkan semakin tingginya produksi daging unggas sejalan meningkatnya industri perunggasan nasional. Fakta empirik sensus pertanian BPS tahun 2003 bahwa 100% RTP yang memelihara unggas, 98,5% nya memelihara unggas lokal. Pola konsumsi masyarakat terus berubah ke arah pangan organik dan sehat.

Pengembangan ayam lokal sampai saat ini masih terdapat banyak hambatan. Ketersediaan bibit yang belum mencukupi dari aspek kualitas dan kuantitas, belum optimalnya pemanfaatan sumber daya pakan lokal, kurangnya modal usaha dan terbatasnya akses kepada kelembagaan keuangan menjadikan usaha beternak ini tarik ulur. Tak hanya itu, tingkat kepemilikan yang masih di bawah skala ekonomis (<300 ekor induk/peternak), juga belum terbentuknya lembaga atau kelompok peternak yang merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota.

Pemerintah Tambah Pasokan Daging Lebaran 7 Ribu Ton



Kementerian Pertanian memastikan pasokan dagingdan telur ayam menjelang puasa dan Lebaran aman dan tidak ada lonjakan harga yang tinggi.
“Stok ayam dan telur sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari,” ujar Menteri Pertanian Suswono usai Rapat Pemantauan Ketersediaan dan Harga Pangan Dalam Rangka Menghadapi Hari-Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HKBN) tahun 2011/2012 di Jakarta.
Tentang pasokan daging sapi selama puasa hingga Lebaran, kata Mentan ada cadangan sapi bakalan sebesar 150 ribu ekor. Kebutuhan sapi bakalan untuk pemotongan setiap bulannya mencapai 50 ribu ekor. Dengan demikian, bisa memenuhi kebutuhan masyarakat selama tiga bulan ke depan. “Kalau terjadi peningkatan harga saya kira permainan pedagang saja,” imbuh Suswono.
Suswono menambahkan, untuk kebutuhan daging sapi pemerintah juga sudah membuka keran impor khusus untuk hari raya Idul Fitri, Natal, hingga Tahun Baru. Rencananya, pemerintah akan mengimpor 28 ribu ton daging sapi.
Suswono meyakini stok untuk daging dinilai masih cukup selama puasa dan Lebaran. “Umumnya pada H-3 (tiga hari sebelum Lebaran) mulai ada kenaikan, tetapi setelah hari H turun lagi,” katanya.
Pada saat ini, menurut dia, harga daging sapi mengalami kenaikan sekitar 1,9 persen dibanding harga bulan Juni. Sedangkan harga pada pekan kedua Juli 2011, mengalami kenaikan hanya sekitar 0,5 persen bila dibanding dengan pekan kedua bulan Juni.
"Kenaikan ada, tetapi relatif kecil," katanya. Mentan juga menambahkan, pemerintah berkomitmen untuk memprioritaskan penyediaan daging sapi dari produksi dalam negeri, tetapi bila tidak tercukupi maka akan dicukupi dengan melakukan impor.

Pembukaan Padang Penggembalaan(Lelang Ulang)

Informasi Lelang Kode Lelang 2903212 Nama Lelang Pembukaan Padang Penggembalaan (Lelang Ulang) Alasan Pembatalan tidak...