Sabtu, 10 September 2011

Pemerintah Tambah Pasokan Daging Lebaran 7 Ribu Ton



Kementerian Pertanian memastikan pasokan dagingdan telur ayam menjelang puasa dan Lebaran aman dan tidak ada lonjakan harga yang tinggi.
“Stok ayam dan telur sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari,” ujar Menteri Pertanian Suswono usai Rapat Pemantauan Ketersediaan dan Harga Pangan Dalam Rangka Menghadapi Hari-Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HKBN) tahun 2011/2012 di Jakarta.
Tentang pasokan daging sapi selama puasa hingga Lebaran, kata Mentan ada cadangan sapi bakalan sebesar 150 ribu ekor. Kebutuhan sapi bakalan untuk pemotongan setiap bulannya mencapai 50 ribu ekor. Dengan demikian, bisa memenuhi kebutuhan masyarakat selama tiga bulan ke depan. “Kalau terjadi peningkatan harga saya kira permainan pedagang saja,” imbuh Suswono.
Suswono menambahkan, untuk kebutuhan daging sapi pemerintah juga sudah membuka keran impor khusus untuk hari raya Idul Fitri, Natal, hingga Tahun Baru. Rencananya, pemerintah akan mengimpor 28 ribu ton daging sapi.
Suswono meyakini stok untuk daging dinilai masih cukup selama puasa dan Lebaran. “Umumnya pada H-3 (tiga hari sebelum Lebaran) mulai ada kenaikan, tetapi setelah hari H turun lagi,” katanya.
Pada saat ini, menurut dia, harga daging sapi mengalami kenaikan sekitar 1,9 persen dibanding harga bulan Juni. Sedangkan harga pada pekan kedua Juli 2011, mengalami kenaikan hanya sekitar 0,5 persen bila dibanding dengan pekan kedua bulan Juni.
"Kenaikan ada, tetapi relatif kecil," katanya. Mentan juga menambahkan, pemerintah berkomitmen untuk memprioritaskan penyediaan daging sapi dari produksi dalam negeri, tetapi bila tidak tercukupi maka akan dicukupi dengan melakukan impor.

Dari Sapi Bali Lahir Sapi Unggul


Dengan introduksi teknik rekayasa pembibitan dan budidaya, Indonesia mulai berswasembada beras dan berencana mengekspornya tahun depan. Prestasi ini memicu perlakuan sama untuk peternakan sapi. Target Indonesia berswasembada daging ternak ini dalam lima tahun mendatang.
Sejak lama Indonesia menghadapi defisit daging sapi. Kebutuhan komoditas pangan ini belum dapat dipenuhi oleh produksi daging sapi dalam negeri sehingga impor daging sapi atau sapi bakalan masih dilakukan. Pada tahun 2007, impor daging sapi dari berbagai negara mencapai 270.000 ton dan cenderung terus meningkat. Hingga tahun 2015 dengan penduduk mencapai 253 juta jiwa diperkirakan defisit daging sapi hampir 334.000 ton.

Untuk itu pemerintah mulai melirik sapi bali sebagai sapi lokal unggulan. Menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman ketika berkunjung ke Agro Techno Park (ATP) Jembrana dan Nusa Penida, Bali, pekan lalu, budidaya sapi bali dengan teknik peternakan modern memungkinkan Indonesia berswasembada sapi dalam lima tahun mendatang.

Sapi bali terpilih untuk program nasional pengembangan peternakan sapi potong karena memiliki beberapa kelebihan. Sapi yang hidup di Pulau Dewata dan Nusa Penida dikenal sebagai sapi bali murni. Kemurnian genetikanya telah dilindungi dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2004 dan Perda No 2/2003 yang melarang bibit sapi bali betina keluar dari wilayah provinsi ini.

Khusus sapi bali Nusa Penida, selain bebas empat macam penyakit, yaitu jembrana, penyakit mulut dan kuku, antraks, serta MCF, juga tinggi tingkat reproduksi dan kualitas dagingnya. Sapi Nusa Penida juga menghasilkan vaksin penyakit jembrana.

Saat ini, rasio populasi sapi bali di Nusa Penida antara betina dan jantan tergolong ideal dijadikan pusat pengembangan sapi, yaitu 2,4: 1 pada tahun 2006—menurut data Dinas Peternakan Bali. Nusa Penida ditetapkan sebagai kawasan Konservasi Sapi Bali.

Pengembangan sapi bali di Nusa Penida diusulkan oleh Sentana Putra, pakar teknologi peternakan dari Universitas Udayana (Unud). Potensi sebagai pusat konservasi dan pengembangan sapi Bali dirumuskan tahun 2000 dan 2005 melalui pengkajian peneliti dari Unud dan Pemkab Klungkung dan Pemprov Bali.

Pengembangan Nusa Penida sebagai daerah pengembangan sapi bali terbuka dengan kesepakatan Pemprov Bali dan pemerintah pusat untuk membangun fasilitas pelabuhan, penyediaan kapal roro, pembangkit listrik dan pompa air, dan mesin pengolah biji jarak.

Menurut riset peneliti dari Unud, lokasi yang layak dijadikan kawasan pusat konservasi dan pengembangbiakan sapi adalah Bukit Mundi, Desa Klumpu—10 hektar. Di sana dilakukan produksi semen beku, pemuliaan bibit, penggemukan, pemantauan penyakit, penanaman pakan, pabrik mini untuk formulasikan dan memproduksi ransum ternak, pengolahan limbah peternakan menjadi gas bio dan pupuk organik.

ATP Jembrana

Di Pulau Bali, pemprov bekerja sama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) mengembangkan ATP Jembrana di Bali Barat di lahan seluas 5 hektar bekas kebun koleksi tanaman hortikultura Provinsi Bali.

ATP Jembrana mulai dikembangkan Maret 2007 hingga lima tahun mendatang dengan melibatkan peneliti dari LPND Ristek terkait antara lain LIPI, BPPT, dan Batan.

Pengembangan sapi bali di kawasan ATP ini, kata I Wayan Budiastra, Koordinator ATP KNRT, diharapkan dapat mengatasi tiga masalah besar, yaitu menurunnya populasi dan mutu sapi bali, persilangan satu keluarga (imbreeding), dan terbatasnya akses petani/peternak akan teknologi peternakan modern, termasuk teknologi pertanian terpadu (biocyclofarming).

Untuk menstimulasi peningkatan populasi dilakukan program intensifikasi sapi potong, pelaksanaan program sejuta akseptor inseminasi buatan (IB), pembangunan pusat penanaman bibit sapi di pedesaan dan pendirian pusat agrobisnis komoditas unggul.

Upaya peningkatan populasi sapi perlu diakselerasi melalui penerapan teknologi agar sasaran swasembada daging pada tahun 2010 dapat tercapai.

Program ATP Jembrana, kata Syahruddin Said, peneliti Bioteknologi Reproduksi Ternak LIPI, difokuskan pada penerapan dan alih teknologi pembibitan sapi bali, yaitu transfer embrio dan IB sexing dan program lain yang mendukung pembibitan sapi Bali dan siklus pertanian terpadu seperti teknologi pakan, pengolahan kotoran sapi, biogas dan budidaya hijauan makanan ternak (HMT), termasuk juga budidaya hortikultura dan teknologi pembenihan ikan.

Pembibitan sapi unggul difokuskan pada kelompok tani dengan supervisi teknologi dari ATP. Sebanyak 17 kelompok tani terikat perjanjian gaduh sapi dengan ATP (model yang umum dipakai Direktorat Jenderal Peternakan). Setiap kelompok mendapat 10 induk sapi betina sehingga sapi ATP yang ada di kelompok berjumlah 180 ekor.

Sebanyak 20 ekor sapi betina akan menjadi kelompok setelah mengembalikan 20 anak sapi paling lama tiga tahun. Anak sapi yang dikembalikan akan digulirkan kembali pada kelompok lain yang belum mendapat sapi gaduh. ”Diharapkan dengan program ini populasi sapi bali akan meningkat menurut deret ukur,” urainya.

Kegiatan embrio transfer juga dilaksanakan di ATP Jembrana. Pada 2008 telah dihasilkan 2.200 straw atau dosis sperma sexing dan telah diaplikasikan pada 220 sapi betina, menghasilkan 52 anak sapi.

Teknologi penggemukan sapi dilakukan pada 78 sapi jantan di ATP dengan menerapkan kombinasi HMT dan formulasi konsentrat pakan hasil litbang Batan, BPPT, dan LIPI. Untuk mengatasi keterbatasan HMT, khususnya pada musim kemarau, digunakan teknologi pakan suplemen UMMB dan SPM berbasis sumber daya lokal yang menjadi target pengembangan ATP mendatang

Tags: Berita Terbaru Berita Peternakan Dari Sapi Bali Lahir Sapi Unggul sapi bali Nusa Penida sapi ATP

Sumber :
http://www.vet-klinik.com/Berita-Peternakan/Dari-Sapi-Bali-Lahir-Sapi-Unggul.html

Hanya Vaksin AI-H5N1 Boleh Beredar



Hanya vaksin AI-H5N1 yang boleh eksis di kandang-kandang unggas di tanah air, yang lain dipersilakan untuk ditarik dan hengkang dengan batas waktu Desember 2011

Surat terdiri atas 2 lembar itu menyebutkan hanya strain virus AI (Avian Influenza) lokal yang kelak diizinkan digunakan sebagaimaster seed (benih) vaksin yang beredar di Indonesia. Artinya, secara resmi hanya vaksin H5N1 yang boleh eksis di kandang-kandang unggas di tanah air. Sementara strain lain dipersilahkan untuk ditarik dan hengkang dari seluruh wilayah Indonesia dengan batas waktu Desember 2011.
Dalam surat edaran yang dikeluarkan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian itu juga dicantumkan 4 strain virus AI yang siap dijadikan master seedvaksin AI, dengan dimungkinkan penambahan strain lokal lainnya sepanjang memenuhi kriteria perlindungan yang dibuktikan dengan uji tantang.
Sementara untuk menguji mutu vaksin, disebut 2 isolat virus yang dipergunakan untuk uji tantang (challenge test). Dan tempat pelaksanaannya dilakukan di BBPMSOH (Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan) atau instansi pemerintah yang ditunjuk pemerintah atau perusahaan masing-masing dengan disupervisi BBPMSOH.
Seperti sudah diperkirakan, isi keputusan itu tak urung menuai reaksi.  Tak bisa dipungkiri, aturan ini rawan polemik, sebab sangat kental akan kepentingan bisnis vaksin AI.
Sebagian menilai keputusan itu tergesa-gesa dan tidak kuat dasar ilmiahnya. Pihak ini menuding surat edaran keluar karena ada tekanan dari Offlu (forum pakar AI sedunia) dan produsen lokal. ”Dasar ilmiah keputusan itu hanya berdasarkan uji serologi dan analisa antigenic cartography. Seharusnya didasarkan pada epidemiologi dan uji tantang. Lalu apakah 4 master seed virus AI yang ditetapkan pemerintah itu telah diuji keamanannya, efikasi, dan kualitasnya? Mengapa tidak dipublikasikan?” Demikian cecar sumber TROBOS yang tak berkenan identitasnya disebutkan.
Ia bahkan mengatakan, akan berjuang hingga titik darah penghabisan menentang ketentuan itu. ”Usaha yang paling mungkin kami lakukan adalah meminta dukungan dari para breeder dan peternak besar yang menggunakan produk kami. Karena mereka-lah yang punya data riil dan yang telah membuktikan bahwa vaksin kami protektif,” tandasnya berapi-api.
Selain itu, juga dikeluhkan tak adanya sosialisasi sebelum aturan dikeluarkan. Sumber pertama TROBOS mengakui adanya pertemuan pada 27 Juni. Tetapi menurut dia, semua ketentuan yang ditetapkan sudah harus dilaksanakan saat itu. ”Masukan dipersilakan, tapi tidak akan mengubah isi draft ketentuan itu. Selang seminggu, surat edarannya pun keluar,” ia merepet.
Demi Status Bebas AI
Sementara itu, meski menuai protes Direktur Kesehatan Hewan, Pudjiatmoko mengatakan keputusan diambil untuk kepentingan Indonesia, mencapai status bebas AI  2020. ”Dipilih vaksin tepat untuk mencapai target tersebut dengan memilih seed virus lokal yang cocok dan lulus uji tantang. Ini mampu menurunkan shedding (pelepasan virus di lingkungan) dan memberi proteksi yang bagus. Strain non-lokal bisa memproteksi, tapi tidak menekan shedding yang berpotensi menyebabkan mutasi virus,” paparnya panjang lebar.
Dan menanggapi tuduhan tidak adanya sosialisasi, Pudjiatmoko tegas menyanggah. Sosialisasi dilakukan, dan semua pelaku terkait diundang. ”Disampaikan ketika itu vaksin selain H5N1 akan ditarik lebih cepat. Dan semua setuju akan mengikuti ketentuan itu. Kalau keluar lagi grundel-grundel  ya komitmennya bagaimana? Kalau hanya untuk kepentingan sendiri dan bukan untuk kepentingan nasional ya gimana?” tanyanya retorik.

http://www.trobos.com/show_article.php?rid=29&aid=3024Source: 

Populasi Sapi dan Kerbau Indonesia 16, 7 Juta Ekor



Jakarta – Berdasarkan hasil awal Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah, dan Kerbau (PSPK) 2011, populasi sapi dan kerbau Indonesia sebanyak 16, 7 juta ekor atau tepatnya 16.707.204 ekor. Jumlah tersebut terdiri dari populasi sapi potong sebanyak 14.805.053 ekor, sapi perah sebanyak 597. 135 ekor dan kerbau sebanyak 1. 305.016 ekor

”Perhitungan hewan ternak ini dilakukan dari tanggal 1-30 Juni 2011 di 33 provinsi, 497 kabupaten/ kota, 6699 kecamatan, serta tersebar di 77.548 desa dan melibatkan 105 ribu petugas,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Dr. Rusman Heriawan dalam rilis hasil awal PSPK 2011 di Kanpus Kementerian Pertanian (12/8/2011).

Dijelaskan Rusman, hasil PSPK 2011 lebih tinggi dibandingkan hasil Sensus Pertanian 2003 yang mencatat populasi sapi potong sebanyak 9.867.522 ekor, sementara untuk tahun 2011 jumlahnya mencapai 14.805.053 ekor atau meningkat dua kali lipat selama kurun waktu 8 tahun terakhir. Adapun persebaran wilayah untuk sapi potong adalah, Jawa Timur 4,7 juta ekor, Jawa Tengah 1,9 juta ekor, Sulawesi Selatan 984 ribu ekor, NTT 778, 2 ribu ekor, Lampung 742,8 ribu ekor, NTB 685,8 ribu ekor, Bali 637, 5 ribu ekor dan Sumatera Utara 541, 7 ribu ekor.

Sementara itu, Menteri Pertanian Dr. Ir. Suswono, MMA mengatakan bahwa hasil PSPK 2011 akan dijadikan data dasar jumlah sapi dan kerbau yang lengkap di Indonesia guna menyusun kebijakan pengembangan sapi potong dan kerbau dalam mendukung Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau 2014. ”Data ini sekaligus menepis keraguan berbagai kalangan mengingat akurasi datanya dapat dipertanggung jawabkan karena telah memenuhi kaidah – kaidah official statistic. Bahkan, dengan metoda sensus ini telah dihasilkan data yang semula dianggap terlalu ambisius yaitu data peternak by name by adress sebagaimana yang pernah dimiliki Kementan 44 tahun lalu pada waktu Indonesia melakukan kegiatan yang sama pada tahun 1967,” demikian dijelaskan Mentan.
source : http://www.deptan.go.id

Jumat, 09 September 2011

Lokasi Gelar Teknologi Penas XIII Dilestarikan untuk jadi Sarana Pendidikan, Penyuluhan dan Agrowisata

Lokasi Gelar Teknologi Penas XIII Dilestarikan untuk jadi Sarana Pendidikan, Penyuluhan dan Agrowisata

Penas XIII menampilkan Gelar Teknologi melalui partisipasi yang baik antara Kabupaten Kutai Kartanegara, Pemprov Kaltim serta seluruh jajaran instansi teknis dan dengan dukungan Kementerian Pertanian.

Gelar teknologi ini dengan luasan 25 hektar, berada di bagian belakang kompleks GOR Aji Imbut Tenggarong Seberang. Jaraknya, hanya beberapa ratus meter dan sangat mudah dilewati karena telah dilengkapi sarana infrastruktur jalan yang baik mengitari gelar teknologi tersebut. Dengan lokasi yang mudah dicapai ini, dengan penyajian berbagai teknologi terkini, para peserta Penas merasa terpuaskan keinginannya untuk menambah wawasan tentang pertanian.

Dengan kondisi gelar teknologi yang sangat memikat ini, banyak yang mempertanyakan nasib gelar teknologi yang mendisplaykan pertanian, perikanan, peternakan, pasca panen.

Kegundahan ini ternyata ditangkap oleh Gubernur Kaltim Awang Faroek yang memutuskan gelar teknologi harus tetap dilestarikan. “Saya kira sangat penting untuk memacu semangat generasi muda kita untuk lebih mencintai pertanian dan tidak malu untuk menjadi petani," kata Awang Faroek.

Gubernur meyakini gelar teknologi ini akan berubah menjadi area pendidikan, penyuluhan, praktik pertanian dan juga agro wisata. “Gelar teknologi ini potensial dikelola untuk sarana pendidikan pertanian dan bisa menjadi area agro wisata untuk menambah penerimaan daerah," kata Awang Faroek.

Pengelolaan yang baik akan menciptakan panorama yang asri dan sejuk sehingga demplot ini akan menjadi semakin menarik. Bukan itu saja, Gubemur Awang Faroek berharap agar pengelolaan selanjutnya bisa lebih ditingkatkan, salah satunya dengan membangun kerjasama dengan sekolah-sekolah untuk memberikan pengetahuan dan pendidikan seputar pertanian.

Kamis, 08 September 2011

Pengumuman Lelang Kandang Sapi dan Kandang Batre

Pengumuman Lelang Kandang Sapi dan Kandang Batre


Panitia Pengadaan Barang dan Jasa pada Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Dwiguna dan Ayam Sembawa akan melaksanakan Pelelangan Umum dengan pascakualifikasi untuk paket pekerjaan konstruksi sebagai berikut:

1. Paket Pekerjaan

Nama paket pekerjaan : Rehab Kandang Sapi dan Rehab Kandang Batre

Nilai total HPS : Rp 560.000.000,- ( Lima ratus enam puluh juta rupiah)

Sumber pendanaan : APBN Tahun Anggaran 2011



2. Persyaratan Peserta.

Memiliki Surat Ijin Jasa Konstruksi ( SIUJK ) yang masih berlaku.
Klasifikasi KECIL
Kualfikasi Bidang Arsitektur Sub Bidang bangunan – bangunan non perumahan lainnya Kode 21005


3. Pelaksanaan Pengadaan

Tempat dan alamat : Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Dwiguna dan Ayam Sembawa. Jl. Raya Palembang – Pangkalan Balai KM. 29 Kotak Pos 1116 Palembang



Download :Pengumuman Lelang Kandang Sapi dan Kandang Batre

Pengumuman Lelang Jalan Produksi dan Jalan Komplek

Pengumuman Lelang Jalan Produksi dan Jalan Komplek
Panitia Pengadaan Barang dan Jasa pada Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Dwiguna dan Ayam Sembawa akan melaksanakan Pelelangan Umum dengan pascakualifikasi untuk paket pekerjaan konstruksi sebagai berikut:

Paket Pekerjaan

Nama paket pekerjaan : Pembangunan Jalan Produksi dan Jalan Komplek

Nilai total HPS : Rp 1.099.760.000,- ( Satu milyar sembilan puluh sembilan juta tujuh ratus enam puluh ribu rupiah )

Sumber pendanaan : APBN Tahun Anggaran 2011



2. Persyaratan Peserta.

- Memiliki Surat Ijin Jasa Konstruksi ( SIUJK ) yang masih berlaku.

- Klasifikasi KECIL

- Kualfikasi Bidang Sipil Sub Bidang Jalan raya , jalan lingjungan Kode 22001



3. Pelaksanaan Pengadaan

Tempat dan alamat : Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Dwiguna dan Ayam Sembawa. Jl. Raya Palembang – Pangkalan Balai KM. 29 Kotak Pos 1116 Palembang

Download Pengumuman Lelang Jalan Produksi dan Jalan Komplek

Pembukaan Padang Penggembalaan(Lelang Ulang)

Informasi Lelang Kode Lelang 2903212 Nama Lelang Pembukaan Padang Penggembalaan (Lelang Ulang) Alasan Pembatalan tidak...