Rabu, 29 Agustus 2012

Manfaatkan limbah peternakan menjadi biogas

Jakarta (ANTARA News) - Petani danpeternak Indonesia rentan menjadipihak yang dirugikan karena harga jual komoditinya tidak bisa mengimbangi ongkos produksi. Berbagai persoalan pasca panen maupun sarana prasarana pertanian harus dihadapi petani.Petani dan peternak  bisa membentuk kesatuan rangkaian produksi yang saling menunjang untuk membentuk kemandirian dalam menunjang ketahanan pangan bangsa.Minimal, petani harus mampu mandiri dalam pengadaan pupuk, pengolahan hasil, dan penyediaan energi. Ketahanan pangan dan energi adalah dua hal yang sulit dipisahkan dan punya nilai sangat strategis dalam menghadapi persaingan global.Peneliti dari Pusat Penelitian Fisika– Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Neni Sintawardani, menjelaskan bahwa bentuk ketahanan energi untuk mendukung ketahanan pangan, salah satunya berupa biogas.”Biogas adalah energi alternatif terbarukan yang dapat dipergunakan secara langsung untuk memasak, penerangan bahkan untuk pembangkit listrik bagi masyarakat,” ujarnya. Contohnya saja, penggunaan biogas1,7 m3 untuk memasak setara dengan penggunaan 1 liter minyak tanah.Di Indonesia, ketahanan pangan salah satunya coba diatasi dengan peternakan sapi potong. Ironisnya, produksi kotoran sapi malah menjadi problem tersendiri. Padahal, kotoran itu bisa diolah

Jumat, 17 Agustus 2012

Galeri Upacara HUT RI 67 Sembawa

Berikut Galeri Dokumentasi HUT RI 67 Sembawa, di lapangan SPPN Sembawa. Gambar sengaja di perkecil ukuran dan kualitas semata mata untuk keperluan upload saja. file asli sekitar 8 MB per photo. 

Jika ada yang ingin mendapatkan file aslinya atau Mau di cetak silahkan hubungi Marjito, HP 0813-7363-7833 http://adilostudio.com












Selasa, 14 Agustus 2012

Pertemuan Pemmbinaan Pengendalian Sapi/Kerbau Betina Produktif 2012 di Palembang

Pertemuan ini dilakukan oleh Direktur Perbibitan Kementerian Pertanian dengan Kepala Dinas berbagai propinsi untuk membahas Pengendalian Sapi/Kerbau betina produktif yang dilaksanakan di Hotel Sintesa Peninsula Palembang.




Motto BPTU Sembawa:"Bibit Unggul Peternak Makmur"

Minggu, 05 Agustus 2012

Mentan Kunjungi Sentra Produksi Pangan di Pantura


Karawang – Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono melakukan peninjauan ke beberapa sentra produksi pangan di wilayah Pantai Utara (Pantura) seperti Karawang, Subang dan Indramayu.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Safari Ramadhan Mentan selama bulan puasa yang bertujuan untuk mengetahui kondisi para petani di lapangan termasuk berbagai kendala yang dihadapinya serta untuk mengecek stok beras yang sudah terserap Bulog.

Di Kabupaten Karawang dan Subang, Mentan melakukan peninjuan sekaligus panen perdana pada pertanaman padi SLPTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu) serta melihat lokasi pompanisasi yang dilakukan oleh kelompok tani secara swadaya. Selain itu Mentan juga mengecek gudang Bulog untuk melihat ketersediaan beras di Karawang, Subang dan indramayu.

Mentan mengakui, di tengah kesibukannya tidak setiap hari dapat melihat kondisi petani secara langsung. Oleh karena itu ia menyempatkan diri turun ke lapangan pada hari sabtu dan minggu di luar jam kantor. “Sebagai Menteri saya memang tidak memiliki hari libur, karena itu disela – sela kegiatan menjalankan program pembangunan pertanian, saya sempatkan hari sabtu dan minggu ini untuk turun langsung ke lapangan mengunjungi para petani di daerah,” katanya saat berbincang dengan petani di Desa Citarik, Tirtamulya, Karawang pada Sabtu (28/7).

Pada kesempatan tersebut, Mentan mengungkapkan rasa senangnya melihat program SLPTT yang dikembangkan di daerah dapat berhasil dengan baik. Ia berharap agar ke depan, petani mampu menjadikan program SLPTT tersebut sebagai model percontohan yang nantinya bisa direplikasi sendiri. “Kalau petani mau disiplin sesuai SLPTT maka hasilnya pasti akan bagus, baik disiplin pengaturan tanamnya maupun airnya,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) merupakan program nasional pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian pangan nasional melalui usaha peningkatkan produksi pangan nasional, khususnya padi, jagung dan kedelai. Pengembangan SLPTT dilakukan dengan memberi pengajaran pada petani mengenai pengendalian pemberian benih, pupuk, pengendalian hama terpadu, sekolah lapang iklim, dan teknologi budidaya.

Program ini telah dikembangkan sejak tahun 2008 dengan melibatkan sekitar 60.000 kelompok tani dimana setiap kelompoknya mengelola lahan pertanian seluas 25 ha di seluruh Indonesia.

Motto BPTU Sembawa:"Bibit Unggul Peternak Makmur"

Sabtu, 04 Agustus 2012

Nasib Hasil Penelitian Sapi di Negeri Sendiri

Written by P. Abrianto


Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki program untuk menjadikan wilayahnya menjadi propinsi ternak sapi.  Namun setelah berjalan sekian lama, ada nilai tambah yang dapat dirasakan oleh peternaknya.Masalah utama terletak pada produktivitas sapi timor yang sangatrendah. Penyebabnya adalah kematian pada anak sapi yang jumlahnya cukup besar (20-50% dri total kelahi). Menurut Kepala Pusat penelitian (Kapuslit) Pengembangan Sapi Timor Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Ir. IG Ng Jelantik, MSc, PhD, permasalahan tersebut sudah lama menjadi bahanpenelitian.Kesimpulannya, kematian anak sapi mayoritas terjadi pada masa menyusui, suatu hal yang selama initidak terpikirkan. Solusinya, Universitas Nusa Cendana (Undana) kemudian mengembangkan satu jenis suplemen, yang terbukti dapat menekan angka kematian sapi antara satu hingga dua persen.Suplemen tersebut telah diakui bahkan telah digunakan di luar negeri. Ironisnya, hasil penelitian tersebut tidak pernah diaplikasikan di negeri sendiri. Uji coba pada  tigakabupaten di wilayah NTT pun dapatterlaksana yang karena mendapat dukungan dana dari pemerintah Australia.Salah satu kendalanya adalah tidak adanya sinergi antara Undana dengan Pemerintah Propinsi NTT. Walapun ada banyak diskusi yang dilakukan (utamanya dengan Dinas Peternakan) tetapi sifatnya hanya antar individu,  tanpa ada perjanjiantertulis.Pada tahun 2007, Pemda Propinsi NTT memang  pernah mengalokasikan dana untuk mengkaji mutu genetik sapi Timor dan mempetakan daerah-daerah yang mutu genetik sapinya masih bagus. Namun sangat disayangkan, pihak Pemda terkesan angin-anginan, karena tidak kontinyu dan konsisten, kemungkinan besar  karena terkait dengan masalah politik. Pada akhirnya, semua hasil penelitian  masih sebatas untuk memenuhi kegiatan seminar saja.Program Pemerintah Propinsi NTT yang sekarang dilakukan pun, hanya mengulang program yang lama. Seperti program bantuan ternak sapi , yang jauh dari target yang diharapkan karena  banyak sapi yangmati. Tribunnews


Published with Blogger-droid v2.0.4