Kamis, 08 Desember 2011

Bungkil Inti Sawit dalam Ransum Unggas

www.poultryindonesia.com. Ransum unggas (ayam petelur dan broiler) komersil di Indonesia saat ini menggunakan bungkil kacang kedelai (BKK) sebagai sumber utama protein, meskipun kita tidak menghasilkan bungkil kedelai.

Itulah sebabnya jumlah impor bungkil kedelai kita terus meningkat yang menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, pada tahun 2010 sudah mencapai 2,8 juta ton. Oleh karena itu, sangat menarik bila ada bahan pakan yang dapat menggantikan BKK, terutama bila bahan dan teknologi penggunaannya dapat diperoleh di dalam negeri. Sudah banyak penelitian yang dilaporkan di dalam negeri maupun di luar negeri yang bertujuan untuk mencari pengganti BKK sebagai sumber protein dalam ransum unggas. Salah satu di antaranya adalah mengganti BKK dengan bungkil inti sawit (BIS). Penelitian tentang ini juga sudah banyak dilaporkan, namun hanya 2 (dua) artikel yang menarik yang disajikan dalam tulisan ini.
Produksi dan kandungan gizi bungkil inti sawit
Bungkil inti sawit merupakan produk ikutan yang dihasilkan dari proses pemerasan inti biji sawit untuk menghasilkan minyak inti sawit. Sebagai negara produsen sawit terbesar di dunia, pasti kita menghasilkan bahan ini. Menurut data dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (Purba dan Panjaitan, 2011), pada tahun 2010 Indonesia menghasilkan bungkil inti sawit sebanyak 2,881 juta ton dan pada tahun 2011 diperkirakan meningkat menjadi 3,108 juta ton.  Suatu potensi yang cukup besar. Namun, bisakah digunakan di dalam ransum unggas, apalagi sebagai sumber protein menggantikan bungkil kedelai?
Setiap orang yang mau menggunakan suatu bahan pakan dalam ransum pasti lebih dulu mengetahui nilai nutrisi dari bahan tersebut. Jika nilai nutrisi BKK dan BIS diperbandingkan seperti dalam Tabel 1, maka akan terlihat bahwa nilai nutrisi bungkil inti sawit jauh di bawah bungkil kedelai dan tidak mungkin BIS untuk menggantikan BKK, jika teknik penggantian dilakukan secara barter (atau 1:1). Berdasarkan informasi dari beberapa pabrik pakan di Indonesia, penggunaan BIS dalam ransum hanya sekitar 2,5% hingga 5%, karena adanya faktor pembatas seperti tingginya kadar serat kasar, adanya cemaran cangkang yang dapat mempengaruhi produktivitas ternak, kecernaan gizi yang rendah dan harga yang relatif tinggi dibandingkan dengan BKK.
Akan tetapi, teknologi untuk mengurangi kadar cangkang, memperkaya kandungan gizi dan meningkatkan kecernaan gizi BIS sudah dihasilkan beberapa peneliti. Teknologi ini sudah dipaparkan dalam tulisan Sinurat (2010).  Salah satu contoh untuk meningkatkan kandungan gizi BIS adalah dengan teknologi sederhana membiakkan mikroorganisme dengan menggunakan media BIS atau dengan proses fermentasi. Contohnya, proses fermentasi yang dilakukan di Balai Penelitian Ternak dapat meningkatkan protein kasar BIS dari 14,2% menjadi 22,95%, meningkatkan kandungan asam amino dan nilai energi metabolis seperti terlihat pada Tabel 1 (Sinurat, 2010). Teknologi seperti ini diharapkan membuka peluang untuk menggantikan BKK dengan BIS.
Tabel 1. Perbandingan Kandungan Gizi Bungkil Kedelai dan Bungkil Inti Sawit.
Zat Gizi
Bungkil kedelai
Bungkil inti sawit (BIS)
BIS * difermentasi
Bahan kering, %
89
90
89,48
Serat kasar
6
21.7
18,6
Energi Metabolis (kkal/kg)
2510
2087
2413
Protein, %
44,0
14,2
22,95
Asam Amino, %



Methionin
0,59
0.41
0,51
Lisin
2,6
0.49
0,59
*Sinurat (2010)
Penggantian BKK Dengan BIS dalam ransum ayam petelur
Salah satu artikel menarik dilaporkan oleh Dairo dan Fasuyi di Journal of Central European Agriculture Vol 9 (2008) No 1 yang mencoba menggantikan BKK dengan BIS yang sudah difermentasi. Dalam hal ini, BIS difermentasi dengan menggunakan teknik silase (tanpa menambahkan mikroorganisme tertentu selama proses fermentasi). Teknik ini dilaporkan meningkatkan protein kasar BIS dari 20,0% menjadi 23,4% dan menurunkan serat kasar dari 15,5% menjadi 12,4%.
Dalam penelitian tersebut, BKK diganti dengan BIS tersebut secara bertingkat (0, 25, 50 dan 75%). Dari hasil yang disajikan dalam Tabel 2 terlihat bahwa semakin tinggi porsi penggantian BKK dengan BIS menyebabkan peningkatan konsumsi pakan dan penurunan sedikit produksi telur. Penggantian BKK dengan BIS sebanyak 75% sudah menyebabkan penurunan produksi telur dan efisiensi (FCR) yang lebih boros. Namun, jika dilihat pada penggantian 50% BKK dengan BIS, produksi telur maupun efisiensi penggunaan pakan (FCR) yang dicapai,  masih dapat ditolerir atau tidak berbeda nyata dengan kontrol (tanpa penggantian BKK dengan BIS). Peneliti tersebut menyimpulkan bahwa BKK dapat diganti hingga 50% dengan BIS yang sudah difermentasi untuk ransum ayam petelur.
Selengkapnya simak Majalah Poultry Indonesia Edisi Cetak Oktober 2011

Motto BPTU Sembawa:"Bibit Unggul Peternak Makmur"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SILAHKAN KOMENTAR